Friday, December 02, 2005

:: Uneg-uneg...::

Alkisah di sebuah sekolah dasar, tercatatlah seorang siswa kelas satu. Sebut namanya Bakar. Ia anak konglomerat ternama. Bukan cuma bapaknya yang pedagang besar. Kakek moyangnya pun demikian. Mereka adalah rezim saudagar terkenal sejak era abad pertengahan. Ketika Pires berkata, ''Tuhan menciptakan Timor untuk pala, Banda untuk lada, dan Maluku untuk cengkih,'' di sanalah kakek moyang Bakar berperan. Bakar masih menikmati warisan kebesaran itu. Ia bersekolah di SD unggulan berstandar internasional dan bilingual, sekitar 2 kilometer dari rumah (mobil senilai Rp 1 miliar yang ia pakai hanya mencatatkan perjalanan 4 kilometer setiap hari). Seorang sopir dan ''baby sitter'' mengantar dan menungguinya setiap hari saat ia belajar.Laiknya sekolah mahal dan unggulan lainnya, mengarang adalah pelajaran yang diposisikan amat penting di SD tersebut. Anak-anak didik, sejak kelas satu, sudah dilatih untuk mengekspresikan isi kepala mereka dengan kata-kata yang tertata baik, namun dengan isi yang mencerminkan kebebasan pikiran. Sampailah, suatu ketika, sang guru meminta siswa kelas I membuat karangan tentang kehidupan keluarga yang sangat miskin di seberang benteng sekolah. Sang guru, yang berasal dari keluarga menengah, berharap dapat menumbuhkan empati anak-anak didiknya yang serba berada terhadap nasib kelompok lain yang tak berpunya. Bakar masih kelas satu SD. Tapi, ia penulis yang andal. Ia sefasih bapaknya saat harus melontarkan kata-kata. Ia pun secerdas ibunya saat harus membuat hitung-hitungan dan perbandingan. Ia menulis, seperti saran gurunya, dengan penuh perasaan. ''Menulislah dengan hati,'' begitu kata-kata sang guru yang selalu ia ingat. Lalu, dengan sesekali menerawang dan membayangkan kehidupan keluarga miskin, Bakar menggoreskan pensilnya dengan huruf-huruf yang belum sempurna benar. Ia menamai tokoh dalam karangannya sebagai Pak Abu.
''Pak Abu,'' tulisnya, ''adalah orang yang sangat miskin. Benar-benar miskin, sampai-sampai pembantunya juga miskin, sopirnya miskin, dan tukang kebunnya pun miskin. ''Karena sering tak punya uang, Pak Abu jarang membersihkan kolam renang di rumahnya. Ia juga hanya bisa memelihara ikan-ikan kecil di akuarium seperti lou han yang makannya sedikit, tidak seperti arwana dan koi di rumahku. Kucing siam punya Pak Abu juga kurus, soalnya kurang makan. Ayam yang ia pelihara juga yang kecil-kecil, jenis kate.'' Bakar yang berpikir bebas menulis karangannya itu dengan penuh haru. Ia sesekali mengernyitkan dahi. Ia berpikir dirinya tak mungkin bisa menanggungkan kemiskinan seperti yang terjadi pada keluarga Pak Abu. Alangkah malangnya keluarga Pak Abu, pikirnya. Jangan-jangan anak-anaknya harus berebut saat bermain PS2, karena alat permainan itu hanya ada satu di ruang keluarga. Lain dengan di rumahnya, setiap kamar ada. Di kamar Bakar, di kamar kakak-kakaknya, bahkan di kamar ibu-bapaknya . Sopir dan pembantu Pak Abu pun, pikirnya, pasti sedih karena tidak seperti pembantu dan sopir dirinya. Bakar membandingkan handphone yang dipegang sopir dan pembantu Pak Abu mungkin jenis monophonic yang ketinggalan zaman, lain dengan handphone pembantu dan sopirnya yang polyphonic dan bisa kirim MMS. Ia membayangkan kepala urusan dapur di rumah Pak Abu mungkin hanya bisa belanja di pasar yang becek atau supermarket kecil di perempatan jalan. Padahal, pembantu di rumahnya sangat biasa berbelanja ke hypermarket Prancis dan mal-mal. ''Anak-anak Pak Abu,'' tulisnya dengan empati penuh, ''kalau liburan tidak bisa ke Eropa atau Amerika seperti aku. Mereka hanya bisa berlibur ke Bali. Itu pun pakai pesawat yang murah, low cost carrier.
Terserahlah, Anda mau bekomentar apa tentang cerita itu. Saya hanya mau menyampaikan sebuah kegagalan empati. Bukan karena orangnya tidak tulus, tapi ia memang tidak memiliki pengalaman yang memadai tentang dunia di luar dirinya. Bakar adalah wakil dari kegagalan itu.
Saya kembalikan kepada Anda kisah-kisah di luar. Saat seorang menteri berkata, ''Kalau tidak mampu membeli elpiji, ya jangan gunakan elpiji,'' apa komentar Anda? Bagi saya, itu adalah kegagalan empati. Mungkin karena sekadar kurangnya wawasan dia tentang penderitaan, mungkin juga karena kemalasan melihat dunia luar. Bayangkan setelah si menteri berkata seperti itu, harga minyak tanah melambung tiga kali lipat. Kita tentu tak berharap pejabat itu akan berkata, ''Kalau tidak mampu beli minyak tanah, jangan gunakan minyak tanah." Lalu, ketika harga beras melonjak sekian kali lipat, ia pun berpidato lagi, ''Kalau tidak mampu beli beras, jangan makan nasi.
Empati adalah kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain. Di dalamnya tercakup kecerdasan emosional dan sosial. Nah, jika Anda berempati kepada orang miskin, maka Anda akan memerankan diri sepenuh perasaan sebagai orang miskin. Persoalannya, apa fantasme Anda tentang kemiskinan? Penguasa kolonial mendefinisikan kemiskinan sebagai buah kemalasan. Saat mendengar kata ''miskin'', mereka teringat pada kerbau yang hanya bergerak kalau dipacu dan lebih suka berkubang di lumpur hitam. Pemerintah kita mendefinisikan kemiskinan sebagai hasil perhitungan dari sebuah nilai subsidi. Maka, ditemukanlah angka penghasilan Rp 175 ribu sebagai batas kemiskinan. Kurang dari angka itu berarti miskin dan berhak mendapat santunan Rp 100 ribu.Persoalannya, orang yang berpenghasilan di antara Rp 175 ribu dan Rp 275 ribu masuk kategori apa? Tidak jelas, kecuali satu hal: Mereka kini menjadi penduduk termiskin di negeri ini.
Forward-an dari seorang teman yang dapat dari forward-an dari teman yang lain...

Tuesday, August 02, 2005

Gue lagi myumetthh...

I'm broke but I'm happy I'm poor but I'm kind I'm high but I'm grounded I'm sane but I'm overwhelmed I'm lost but I'm hopeful I feel drunk but I'm sober I'm young and I'm underpaid I'm tired but I'm working I care but I'm restless I'm here but I'm really gone I'm free but I'm focused I'm green but I'm wise I'm hard but I'm friendly I'm sick but I'm pretty..

Saturday, July 23, 2005

Maafkan kami, Nak

Maafkan kami, Nak
Kami belum bisa memberimu rumah yang nyaman,
karena harga rumah sepetak kecil tak sanggup kami beli
Kami belum bisa memberimu pendidikan yang tinggi
karena serupiah pun kami tak sanggup membayar
Kami belum bisa memberimu makanan yang cukup gizi
karena harga sembako kini kian menjulang
Kami belum bisa memberimu tempat bermain yang lapang,
karena sejengkal tanah kosong pun kian sulit dicari.
Kami belum bisa ini, kami belum bisa itu, kami belum bisa…belum bisa..

Maafkan kami, Nak
Yang bisa kami berikan hanyalah sebaris ucapan
“Selamat Hari Anak Nasional (lagi)”
dan sebaris doa,
Semoga kelak kau akan menjadikan semuanya menjadi BISA, amien

Pejaten 23 Juli 2005
(Didedikasikan untuk anak-anak Indonesia yang sedang merayakan hari mereka)

:: PORNO ::

(Sebuah tulisan Ariel Heryanto)
Remaja Asia, termasuk Indonesia, telah menemukan seksualitas lebih santai dan pada usia lebih muda dibandingkan orangtuanya. Ini bukan perbedaan tingkat susila antar generasi, tetapi perubahan sejarah teknologi. Ketika pornografi dicetak di atas kertas, ruang gerak pembuat dan pengecernya serba terbatas. Juga konsumennya, apalagi yang di bawah umur. Kalaupun berhasil mendapatkan, mereka harus mencuri-curi tempat dan waktu untuk membaca dan menyimpannya. Begitu rumitnya pornografi di atas kertas. Apalagi film biru yang butuh proyektor dan kamar gelap.Berkat internet dan DVD, pornografi beredar gencar dan murah. Sesudah dinikmati, bisa disimpan dalam disket tanpa kelihatan jorok, diedarkan,diperbanyak, atau dihapus tanpa bekas. Rekaman VCD dan DVD seharga karcis bioskop. Bisa dimaklumi bila ada yang panik. Sambil menjerit "itu porno!", merekabertekad memeranginya. Tetapi, industri hiburan telah menghancurkan batasan porno dan bukan porno. Teknologi SMS tidak membedakan apakah pesan dari SBY cocok untuk dewasa atau anak. Di layar komputer dan televisi bercampur-aduk berita tentang indeks saham, bom, film kartun Jepang, dan gosip hamilnya Angelina Jolie bagi penonton semua umur.
Generasi terdahulu jelas bersalah karena gagal menyediakan pendidikan seksual yang sehat, terbuka, dan beretika pada generasi mudanya. Lowonganitu digarap para pedagang industri informasi hiburan tanpa menghiraukan etika. Kegagalan kaum tua ini melahirkan reaksi defensif yang tidak selalu memperbaiki situasi. Ada yang bangkit menjadi kelompok militan anti-pornografi. Ada yang berjuang lewat undang-undang. Reaksi represif itu bukan hanya mubazir, tetapi bisa berbahaya dalam masyarakat yang lembaga peradilannya sedang amburadul. Merumuskan "pornografi" saja orang sudah kelabakan. Karena akar masalahnya tidak dipahami di luar soal moralitas baik lawan buruk.Terlebih konyol ketika ada yang berdalih seksualitas terbuka tidak sesuaikebudayaan asli bangsa Timur. Gambar relief di sejumlah candi kita merayakankelamin dan seks. Di sejumlah masyarakat kita, pria mandi bersama di satu bagian sungai; perempuannya di bagian lain. Di sebagian wilayah, perempuanbertelanjang dada sehari-hari. Di pusat kota para pria bekerja bertelanjang dada, dan buang air-kecil di bawah pohon. Goyang Inul pada awalnya populer di kalangan yang asing pada gagasan liberalisme.Porno tidak dikenal dalam bahasa adat kita. Kita harus pinjam bahasa Inggris untuk menajiskan orang lain.
Sejak awal "adat" kita yang beraneka menyerap "adat" berbagai bangsa lain.Perdebatan RUU KUHP kesusilaan didorong meningkatnya bentrok nilai budaya yang sama-sama datang dari "luar" Nusantara. Tidak ada yang berhak mengklaim lebih "asli". Apakah "pornografi" ditentukan ada atau tidaknya unsur "erotik" pada gambaratau tindakan? Bagaimana jika gambar atau tindakan itu tidak mengandungunsur erotik, tetapi yang melihatnya terangsang? Gambarnya harus dipidana,atau yang "tidak tahan" melihat perlu dibawa ke klinik ilmu jiwa?
Seorang pria Indonesia pernah menceritakan pengalamannya cuci mata di pantaiKuta. Banyak turis asing, perempuan berkulit putih, berjemur diri sambil melepas kutang. "Aneh," katanya, "saya sama sekali tidak terangsang. Tetapi,yang lebih aneh," tambahnya, "setengah jam kemudian ada perempuan berkulit coklat yang lewat dengan pakaian minim. Tubuh saya bergetar." Sebagian besar kasus pornografi merendahkan perempuan, tetapi meresahkan pria. Perempuan diperalat sebagai objek untuk merangsang fantasi dan isikantong pria, subjek yang rentan secara erotik, tetapi berjaya secara politik, ekonomi, hukum, dan moralitas. Pornografi mirip terorisme. Negara berusaha menaklukkan keduanya lewatberbagai cara, termasuk hukum. Tetapi, keduanya susah didefinisikan. Dalam sebagian besar kasus, pornografi atau teroris hanya ada di benak yang merumuskan, bukan sesuatu yang hadir objektif di dunia. Bagi Presiden Bush,orang seperti Abu Bakar Ba'asyir itu teroris. Tetapi, bagi kelompokBa'asyir, yang teroris adalah Bush. Seperti terorisme, sebagian besar pornografi dikuasai, dinikmati, dan sekaligus dikutuk sesama pria. Kaum perempuan diperalat atau dikorbankan.Berciuman di muka umum atau di layar televisi merupakan tindak kejahatan?Tetapi, adegan baku-hantam dalam film cerita atau ruang parlemen sah-sah saja? Apa kita dididik lebih menghargai kekerasan dan kebencian, sambil menindas kasih sayang? Dalam seluruh sejarah, pria lahir dan dibesarkan untuk berperang dan membunuh. Perempuan melahirkan kehidupan, menyusui, dan merawatnya.
Dikutip dari Asal-Usul-Kompas

Friday, July 22, 2005

Buat yang dah ngirim ini, tararengkiu yah!

ber-TERIMA KASIH-lah !

Ini adalah daftar orang yang harus anda hargai, dan ucapkanlah terima kasih pada mereka :
1. Orang yang telah mencelakaimu, karena dia telah melatih kegigihan hatimu.
2. Orang yang telah menipumu, karena dia telah menambah pengalaman dan wawasanmu.
3. Orang yang telah mencambukmu, karena dia telah membuatmu berlari sangat kencang, bahkan melebihi kecepatan normal
4. Orang yang telah meninggalkan/mencampakkanmu, karena dia telah mendidikmu untuk kuat dan mandiri.
5. Orang yang telah menjatuhkan anda, karena dia telah menguatkan kemampuanmu.
6. Orang yang telah memarahi anda, karena dia telah membantu menumbuhkan ketenangan dan kebijaksanaan anda.

Terimakasihlah kepada semua orang yang telah membuatmu KUAT, KOKOH, dan BERHASIL, Be Possitive Thinking!

Monday, July 18, 2005

Semalam bertemu teman


Semalam bertemu teman
teman baik di masa lalu
hmm..memori usang pun
berloncatan di pelupuk mata
buatku rindu akanmu

Saturday, July 16, 2005

Tak banyak yang bisa kita lakukan,tapi

Hentikan Memberi Uang Kepada Anak Jalanan

Banyak pihak dan yayasan yang telah mencoba menolong merekadengan memberikan sekolah gratis, makanan gratis dan rumah singgah bagi mereka. Namun mereka tetap kembali ke jalan. Mengapa ? Karena Uang Anda ! Karena setiap hari mereka memperoleh "uang gampang" paling sedikit Rp. 25.000,- itu berarti dalam sebulan mereka bisa memperoleh Rp. 750.000,- Jumlah yang cukup besar, tidak heran merekamemilih untuk tetap di jalan.Tapi jika dibiarkan, 10-20 tahun lagi mereka akan tetap beradadijalanan dan bisa jadi menjadi preman yang tinggal di jalan danmelahirkan anak-anak kurang mampu dan yang tidakberpendidikan. Ini akan menjadi lingkaran setan di negara kita.Mereka bukannya tidak punya pilihan lain, apa yang bisa kita lakukan agar mereka tidak berada di jalanan lagi ?BERHENTI MEMBERIKAN UANG KEPADA MEREKA!!!Dengan begitu kita menolong mereka dari resiko-resiko berbahaya sertamemberikan kesempatan kepada mereka untuk menyambut ulurantangan yayasan dan melakukan hal-hal yang berguna untuk masa depannyakelak. Lewat tindakan kita dan kesempatan yang kita berikan,kita secara tidak langsung sedang memulihkan hak-hak asasi anakmenurut Konvensi hak anak PBB (diratifikasi Keppres RI No.36/1990) :- Hak untuk hidup- Hak untuk tumbuh dan berkembang- Hak untuk memperoleh perlindungan- Hak untuk berpartisipasi Dengan kita berhenti memberikan "uang gampang" berarti kita telahmenjadi sukarelawan pasif dalam usaha pemulihan hak asasi anak. Disatu sisi kita kasihan melihat mereka namun jika kita memberiuang maka mereka akan tetap seperti itu dan tidak mau menyambut uluran tangan dari yayasan2 yang berniat membantu mereka. Disisi lain dengan tidak memberikan uang maka kita berharap masa depan mereka akan lebih baik dari sekarang ini.
MOHON SEBARKAN....ini pun aku dapatkan dari sebuah milis.

You are my Sunshine

My only Sunshine. You make me happy.
When skies are grey.
You'll never know, How much I love You.
Please don't take my Sunshine away....

(Jimmie Davis & Charles Mitchell)

Malam minggu senang, berdendang riang sambil kepala goyang-goyang
hmmm starry night, beibeh! : D

Friday, July 15, 2005

Socrates dan infotainment

Saat ini saya makin eneg nontonin acara infotainment di televisi, yang isinya gossip seputar sosok artis /selebritis yang terkadang seakan harus menelanjangi dirinya dan bahkan terkadang membuat si artis harus bertegang urat dahulu dengan sang wartawan media gossip tersebut. Dengan alasan rating untuk meraup untung sebesar-besarnya, semua stasiun televisi seakan belomba-lomba memproduksi acara semacam ini. Setiap hari kita dicekoki dengan infotainment. Awal mula kemunculannya memang cukup menarik, dipelopori oleh Cek dan Ricek-nya RCTI, karena kita bisa lebih mengenal kehidupan pribadi sosok artis dan mendapatkan informasi terkini tentang mereka. Dulu belum membosankan, karena stasiun TV belum sebanyak sekarang dan itupun tejadual hanya ada satu atau dua kali dalam seminggu. Tapi sekarang, hampir sepanjang hari acara infotainment merajai. Dari mulai subuh sampai malam, tinggal pindah-pindah chanel, kalo perlu tempel aja jadual acara televise yang ada di koran-koran, bahkan ada yang sudah hafal. Habis ini pindah ke sini dan seterusnya. Padahal isinya ya itu-itu juga, lha wong kadang wartawan berbagai media itu datang berbarengan, apalagi artis sekarang demen banget nge-gelar Pers Conference, sedikit-sedikit Pers Conference.

Meski berbeda-beda namanya, tetap saja mereka dihadirkan dengan format serupa tapi tak sama, meski lebih banyak serupanya, namun tetap saja buat saya makin tidak ada nilai gunanya buat saya.

Dengan membaca kisah tentang Socrates di bawah ini diharapkan para pelaku bisnis infotainment juga kita mampu merenung, dan berharap saja para selebrita kita mau melakukan tindakan 'topo bisu', tak lagi melayani permintaan para wartawan infotainment. Dalam sebulan saja aksi mogok itu dilakukan, matilah acara-acara infotainment di televisi.
Berikut cuplikan kisahnya:
Di zaman Yunani kuno, hiduplah Socrates. Ia dikenal luas sebagai orang terpelajar, intelektual bereputasi tinggi.
Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan berkata, "Tahukah Anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman Anda?"
"Tunggu sebentar," jawab Socrates. "Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut dinamakan Ujian SaringanTiga Kali."
"Saringan tiga kali?" tanya pria tersebut. "Betul,"lanjut Socrates.
"Sebelum Anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Kali".
Saringan yang pertama adalah KEBENARAN.
"Sudah pastikah Anda bahwa apa yang Anda akan katakan kepada saya adalah benar?"
"Tidak," kata pria tersebut,"sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada Anda".
"Baiklah," kata Socrates."Jadi anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak".
Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu KEBAIKAN.
"Apakah yang akan Anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik?" "Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk". "Jadi," lanjut Socrates, "Anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi Anda tidak yakin kalau itu benar."
Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu KEGUNAAN.
"Apakah apa yang Anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?" "Tidak, sungguh tidak," jawab pria tersebut.
"Kalaubegitu," simpul Socrates, "Jika apa yang Anda ingin beritahukan kepada saya... tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, kenapa ingin menceritakan kepada saya ?"
Bila sebuah kata telah diucapkan, kita ibaratkan dia seperti sebuah panah yang telah melesat dari busurnya. Bila kita mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang seorang dan hal itu sampai terdengar oleh seseorang itu, ibaratnya kita membunuh jiwa yang tak bersalah, dan kata-kata yang telah diucapkan yang menyakiti hati seseorang, keduanya tidak pernah bisa ditarik kembali. Jadi sebelum berbicara, gunakanlah Saringan Tiga Kali.

Othak Athik Gathuk

Seorang teman menamai blognya dengan RELUNGAN. Belum pernah dengar kata ini kan? Waktu kutanyakan apa artinya, dia bilang asal kata itu dari kata renungan dan relung, karena blog itu merupakan Renungan dari Relung Hati. Hmm..aku pikir boleh juga idenya menciptakan kata yang satu ini. Blog yang mulai booming sekitar 3-4 tahun terakhir ini, memang sering dijadikan tempat untuk ungkap segala rasa, tuang pikir, atau sekedar pencatat mimpi. Jangan lupa, dia juga bisa kita jadikan museum penyimpan kenangan yang setia.

Tapi menurutku, kata yang pasti nggak bakal ditemuin di Kamus Besar Bahasa Indonesia ini,bisa juga penulisannya diubah menjadi RE-LUNGAN, dan memunculkan makna baru. Dua kata RE dan LUNGAN. Re artinya pengulangan/berulang, dan Lungan (diambil dari kata dasar lunga –bhs Jawa-) artinya pergi. Jadi artinya Kepergian yang Berulang.

Nyadar nggak sih, sebenarnya pada saat kita mulai login ke blog, sebenarnya kita sedang pergi ke dunia maya, dimana kita bertemu mungkin dengan orang-orang yang nggak pernah kita tahu bagaimana wajahnya, tidak tahu dia berada di mana, tapi kita cuma bisa menemui tulisan-tulisan mereka. Nyadar juga nggak sih, kalo waktu kita posting di blog, apapun itu, sebenarnya kita juga sedang pergi menemui diri kita sendiri, menuangkan apa yang ada dalam benak kita , asyik bermain dengannya, dan sejenak meninggalkan riuh dunia di luar sana. Dan aku yakin itu pasti akan dilakukan berulang kali, dan bahkan ada yang udah sampe nyandu buat nge-blog.

Ya wis lah, Shakespeare bilang apalah arti sebuah nama. Gak penting kok, tulisan ini emang cuma iseng doang daripada pusing mikir BBM yang makin langka dan denger2 rencananya harga BBM bakal naik lagi. Orang Jawa bilang ini mah Othak Athik Gathuk alias digathuk-gathukke artinya dihubung-hubungkan mesti maksain. Pareeeeeng…